Logo
Masjid Al-Falah
Taman Bona Indah

IKHLAS

Kajian Kamis Subuh

30 Oktober 2025

Masjid al-Falah TBI

Oleh : Nanang Syairazi


Definisi Ikhlas dalam Tasawuf


Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata kholasho yang berarti murni, bersih dari campuran, atau bebas dari kotoran. Dalam istilah tasawuf, ikhlas adalah memurnikan niat, amal, dan tujuan hanya karena Allah semata, tanpa adanya motivasi lain seperti pujian manusia, keuntungan duniawi, atau kedudukan

Imam al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyyah menjelaskan bahwa ikhlas adalah “menghilangkan pandangan terhadap makhluk dalam amal, dan tidak mencari selain ridha Allah dalam ibadah.

Bagi para sufi, ikhlas merupakan inti dari maqāmāt, sebab semua amal tanpa ikhlas akan tertolak dan tak bernilai di sisi Allah.

Bagi para sufi, ikhlas merupakan inti dari maqāmāt, sebab semua amal tanpa ikhlas akan tertolak dan tak bernilai di sisi Allah

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Ikhlas


Al-Qur’an : Allah Swt. berfirman:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).


Qs. Hud 15-16: "Siapa yang niat dengan amalnya hanya semata-mata keduniaan dan keindahannya maka Kami akan memberi kepada mereka semua amalnya dan mereka didunia tidak akan dikurangi (dirugikan).(15). Mereka itulah yang tidak mendapat diakirat kecuali api neraka, dan gugur semua amal mereka itu, bahkan palsu semua perbuatan mereka itu.(16)."


Hadis Nabi:

Rasulullah Saw. bersabda

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalil ini menegaskan bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya amal di sisi Allah

Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Yang sangat saya kuatirkan atas kamu ialah syirik yang terkecil.” Sahabat bertanya: “Ya Rasullullah, apakah syirik yang kecil itu?” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Riyaa. Pada hari pembalasan kelak Allah s.w.t. berkata kepada mereka : “Pergilah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal kerana mereka didunia, lihatlah disana kalau-kalau kamu mendapatkan kebaikan dari mereka.

Abdullah bin Almubarak meriwayatkan dari Abubakar bin Maryam dari Dhomiroh dari Abu Habib berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda : “Adakalanya para Malaikat membawa amal seorang hamda dan mereka anggap banyak dan mereka menyanjungnya sehingga sampai kehadrat Allah, maka Allah berfirman kepada mereka: Kamu hanya mencatat amal hambuku, sedang Aku mengawasi isi dan niat hatinya, hambaku ii tidak ikhlas kepadaKu dan amalnya, maka catatlah dalam sijjin, dan ada kalanya membawa naik amal hamba lalu mereka menganggap sedikit dan kecil sehingga sampai kehadapan Allah, maka Allah berfirman kepada para Malaikat: Kamu mencatat amal perbuatan hambaKu dan Aku mengawasi isi hati dan niatnya, orang ini benar-benar ikhlas dalam amal perbuatannya kepadaKu, catatlah amalnya itu dalam illiyin.

Ady bin Hatim Aththa’i berkata Rasullullah s.a.w. bersabda : \"Pada hari kiamat beberapa orang yang diperintahkan untuk membawa kesyurga dan setelah melihat segala keindahannya serta merasakan bau harumnya maka diperintahkan untuk dijauhkan daripadanya kerana mereka tidak ada bagian didalamnya, maka kembali mereka dengan penjelasan yang tidak ada tara bandingnya, sehingga mereka berkata: Ya Tuhan, andaikan Kau masukkan kami kedalam neraka sebelum Kau perlihatkan kami pahala yang Kau sediakan bagi para waliMu. Jawab Allah: Sengaja Aku berbuat itu kepada kamu, kamu dahulu bila bersendirian berbuat dosa-dosa besar, dan bila dimuka orang-orang berlagak alim sopan dan taat, kamu hanya riya’, memperlihatkan kebaikan kepada manusia, dan tidak takut kepadaKu, kamu mengagungkan orang dan tidak mengagungkan Aku, maka kini Aku merasakan kepada kamu kepedihan siksaKu, disamping Aku haramkan atas kamu kebesaran pahalaKu.


Ikhlas sebagai Maqom dalam Tasawu

Dalam maqomāt sufi, ikhlas dipandang sebagai tahap penyucian hati dari segala penyakit riya’, sum’ah, ujub, atau niat selain Allah. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) tidak akan mencapai maqām lebih tinggi (seperti mahabbah dan ma’rifah) jika tidak melewati maqām ikhlas

Para wali Allah memandang ikhlas sebagai pondasi suluk. Tanpa ikhlas, seluruh amalan dzikir, wirid, uzlah, maupun khidmat sosial hanya akan menjadi kosong dari cahaya spiritual.


Tingkatan Ikhlas menurut Para Suf

Para ulama sufi membagi ikhlas dalam beberapa tingkatan

1. Ikhlas ‘Ammah (Ikhlas Orang Awam

Beramal karena Allah, namun masih disertai harapan pahala dan takut siksa.

Contoh: shalat karena Allah, tapi tetap berharap surga

2. Ikhlas Khowash (Ikhlas Orang Khusus

Beramal murni karena Allah, tanpa mengharap imbalan duniawi maupun ukhrawi.

Mereka beramal karena Allah adalah Tuhan yang pantas disembah

3. Ikhlas Khowashul Khawash (Ikhlasnya Para Wali dan Arif Billah

Beramal karena Allah semata, bahkan tidak lagi menyadari amalnya sendiri, kebaikannya dia yakini kebaikan Allah, menyadari ibadahnya semata-mata atas pertolongan Allah, pada tingkatan ini hilang rasa Aku nya. 


Mereka berada pada maqām fana’, di mana amal hanya menjadi perantara untuk menyatu dengan ridha Allah.


Ikhlas dalam Perjalanan Para Wal

Para wali Allah sangat menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Bahkan mereka berusaha menyembunyikan amal saleh agar tidak diketahui manusia. Diriwayatkan, banyak wali yang menyembunyikan ibadah malamnya dari keluarga, atau merahasiakan sedekah agar tidak menimbulkan riya’

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menekankan bahwa seorang wali harus “menghapus pandangan terhadap dirinya sendiri dalam amal, sebab amal bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk Allah.”


Manfaat Spiritual Ikhlas

  • Membersihkan hati dari penyakit riya’ dan sum’ah.
  • Menjadikan amal diterima Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mulk [67]: 2: “… agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (maksudnya yang paling ikhlas).
  • Membawa ketenangan jiwa, karena seorang hamba tidak lagi peduli pada pujian atau celaan makhluk.
  • Meningkatkan maqom ruhani, sebab ikhlas adalah pintu menuju mahabbah (cinta) dan ma’rifah (mengenal Allah).


Ikhlas sebagai Jalan Para Suf

Para wali menjadikan ikhlas sebagai bekal utama dalam suluk. Tanpa ikhlas, dzikir hanya menjadi ucapan, puasa hanya menjadi lapar, dan amal ibadah hanya menjadi gerakan fisik. Tetapi dengan ikhlas, amal sekecil apa pun bernilai besar di sisi Allah

Ikhlas menjadikan seorang wali bebas dari keterikatan dunia, bersih dari ambisi pribadi, dan terfokus pada keridhaan Allah semata. Inilah sebabnya ikhlas disebut sebagai “ruh ibadah” dan salah satu maqomāt paling penting dalam tasawuf.


Penutup

Ikhlas adalah maqom pokok dalam perjalanan para wali. Ia merupakan amalan hati yang menjadi fondasi spiritual dalam tasawuf. Seorang sufi tidak akan mampu mencapai derajat tinggi dalam suluk jika belum menanamkan ikhlas dalam hatinya. Dengan ikhlas, amal menjadi murni karena Allah, hati terbebas dari belenggu riya’ dan ambisi dunia, serta jiwa dipenuhi ketenangan dalam perjalanan menuju ridha Allah.


Referensi :

1. Kitab Risalah al-Qusyairiyyah : Imam al-Qusyairi

2. Kitab Tanbihu al-Ghafilin : Imam Abu Laits As-Samarqandy


Semoga bermanfaat